finasato

karena di balik riuh udara, kata-kata kian menelisik kesunyian...



Trisno Sumardjo (lahir: 1916 - wafat: 21 April 1969) adalah seorang penerjemah Indonesia yang antara lain menterjemahkan A Midsummer Night's Dream karya Shakespeare.
Dalam pelataran sejarah seni rupa Indonesia, nama Trisno Sumardjo mungkin tidak selegendaris S Sudjojono yang karismatik dan kontroversial. Dia juga bukan pelukis berhasil jika Affandi dijadikan patokannya.
Tidak seperti halnya Sang SS 101 yang sering dikutip penulis seni rupa kita, pikiran-pikiran tokoh kelahiran Surabaya itu jarang mendapat tempat dalam wacana seni lukis Indonesia. Padahal, tidak jarang pemikiran seninya tampak jernih dan tajam, khususnya tatkala dia melihat gejala lahirnya seni lukis modern kita. Dia, misalnya, menulis karakter seni lukis modern Indonesia yang dibidani kelompok Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia 1937) itu sebagai peristiwa terjadinya pembebasan diri seniman untuk mulai memberlakukan sikap hidup dan tradisi baru.
Karakteristik Persagi, demikian dia menyebutnya, adalah langkah baru seniman untuk menyingkirkan mental kolektif dengan lebih mengutamakan kekuatan individunya. Kolektivisme di sana dianggap Trisno Sumardjo berasal dari agama, filsafat, dan susunan tata negara baik feodal maupun kolonial.
Agaknya, dibandingkan dengan S Sudjojono, Trisno Sumardjo adalah salah seorang yang berusaha meneorikan seni lukis modern Indonesia tanpa terburu-buru memberi kesimpulan. Kedua orang yang bersahabat itu pun dikabarkan pernah berseteru di tahun 1950-an ketika S Sudjojono menganjurkan setiap pelukis kembali ke realisme. Trisno membantah bahwa: "Rakyat kita tidak hanya mengerti realisme, melainkan juga cara-cara lain. Sebab, umumnya rakyat dari dahulu kala telah mengenal deformasi, baik dalam bentuk maupun warna. Perhatikan wayang-wayang kulit, relief-relief Borobudur, patung-patung serta lukisan Bali, dan sebagainya. Bukankah hal-hal yang ekspresif, stylistis, dan dekoratif di dalamnya itu jauh dari realisme?"
Pelukis Nashar (Horison, No 6, 1969) sempat mengenang sosoknya yang berwatak keras dan kaku. Namun, masih mengikuti Nashar, mengutamakan kebebasan individu adalah teladan dari seorang Trisno Sumardjo. Nashar sempat membayangkan sosoknya yang cepat naik pitam jika ada seniman yang hanyut atau mengarah pada ketidakbebasannya sendiri. Kepada pelukis Nashar dan Zaini, dia pernah berujar: "Kalian sebagai seniman jangan hanya melukis saja, lakukanlah sesuatu yang lebih luas."
Publik seni mengenal sosok ini sebagai seorang pelukis, pengarang, penerjemah karya-karya sastra dunia, dan seorang kritikus seni. Rasanya, sepanjang hidupnya hanya mengabdi pada perbaikan kesenian. Nashar pun sempat mencatat ucapannya: "Kesenian, bukanlah alat untuk mengejar materi atau mencari keharuman nama."
Trisno Sumardjo memang wafat menelan idealismenya dalam kemelaratan. Batu nisannya adalah sebuah buku kecil yang lusuh yang disunting sastrawan Korrie Layun Rampan. Tetapi, buku lusuh itu sangat membantu generasi sekarang memahami dan mengingat-ingat sosoknya. Buku yang terbit pada tahun 1985 itu semakin lusuh karena diberi judul: Trisno Sumardjo, Pejuang Kesenian Indonesia.
Risalah Pluralitas 1956 dan Lahirnya Mazhab Bandung
Berbeda dengan anggapan dalam dunia seni rupa kita yang meyakini fenomena pluralitas digagas pada era 1990-an (yang konon ikut didongkrak pemikiran pascamodern), saya menilai bahwa isu pluralitas dalam seni rupa Indonesia sesungguhnya telah merebak melalui tulisan Trisno Sumardjo pada tahun 1956 meskipun dia tidak terang-terangan menyebut istilah tersebut.
Ada baiknya kita benar-benar meresapi risalah Trisno Sumardjo yang diberinya judul Kedudukan Seni Rupa Kita. Risalah yang dimuat di dalam bundel Almanak Seni 1957 terbitan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional itu sungguh merangsang pemikiran, terutama sekali ketika dia menamai salah satu sub-judulnya dengan istilah kunci: Situasi Sekarang; Keragaman Gerak Hidup. Dalam maksud demikian, jika istilah situasi sekarang boleh sepadan dengan kontemporer, maka istilah keragaman gerak hidup tentunya sah untuk dipahami sebagai pluralitas.
Pada sub-judul itu, Trisno Sumardjo mengawali pemikirannya dengan fatwa agar perkembangan kreativitas serta perjuangan seni rupa tidak hanya terbatas pada kain kanvas. Fatwa ini menjadi ancang-ancang sikapnya untuk tidak mengutamakan satu bentuk seni rupa tertentu, sekaligus sebagai penanda bahwa situasi seni rupa dasawarsa 1950-an bergolak demikian keras mencari orientasi.
Dengan membangkitkan pluralitas, risalah Trisno Sumardjo tahun 1956 itu seperti tawaran untuk menemukan kembali orientasi seni rupa kita. Kita, demikian harapan Trisno Sumardjo di sana, sebaiknya sanggup mengisi lapangan-lapangan baru ke arah pembangunan seni rupa selanjutnya. Dia menyebut lapangan baru yang tidak semata kanvas itu antara lain membangkitkan karya cukilan kayu, etsa, ex-libris, fresco, patung, relief, monumen, keramik, arsitektur, tata kota dan sebagainya.
Memang, secara umum pada sub-judul risalah, Trisno Sumardjo menangkis konsepsi realisme seni lukis S Sudjojono yang dianggapnya terlampau sederhana. Realisme sendiri disangsikan tidak lagi berfungsi sebagai terminologi, tetapi, ia menegaskan, lebih berupa genderang dan panji-panji ideologi politik. Ia menyatakan realisme sebagai bentuk kungkungan yang berbahaya.
Pembelaan Trisno Sumardjo tidak semata-mata ditujukan untuk mendebat anjuran S Sudjojono pada tahun 1950 yang mengajak seniman Indonesia kembali ke realisme. Risalah itu adalah pembelaan sewajarnya untuk membuka diri terhadap wacana pluralitas dalam seni rupa kita.
Jika pada tahun 1954 Trisno Sumardjo mengkritik pameran karya-karya hasil pendidikan seni rupa di ITB adalah bentuk pengabdian pada laboratorium Barat, maka kita pahami bahwa dia memang seorang penentang seniman yang lahir dari hasil pendidikan. Seniman, katanya, tidak mungkin diproduksi oleh sekolah. Praktik seni abstrak dan kubistik yang memang diajarkan oleh Ries Mulder kepada Ahmad Sadali dan kawan-kawan di Bandung dituding sebagai praktik seni lukis yang tidak berpijak di Tanah Air. Posisi kritik itu kini menjadi penting dilihat setidaknya untuk dijadikan refleksi awal lahirnya apa yang nanti disebut: Mazhab Bandung.
Sebuah pemikiran lain yang jarang muncul di permukaan wacana seni rupa kita mengenai persoalan ini adalah rumusan Ahmad Sadali pada tahun 1983 melalui artikel Ungkapan di Atas Bidang pada tahun 1983 (Katalog Peringatan 35 Tahun Pendidikan Tinggi Seni Rupa di Indonesia). Meskipun memiliki jeda waktu cukup panjang, rumusan ini boleh dilihat sebagai jawaban atas cap Barat yang dilabelkan oleh Trisno Sumardjo (1954) sebelumnya. Di dalam artikel tersebut, Ahmad Sadali merumuskan bahwa asas antropomorpho-naturrealis semacam yang ada di Barat tidak pernah dikenal di daerah-daerah peradaban Timur.
Bagi Ahmad Sadali asas antropomorpho-naturrealis diyakini sebagai cara pelukisan representatif yang menganggap manusia sebagai sentral yang puncaknya bisa kita lihat dalam kebudayaan Barat. Asas ini kemudian menjadi dogma dalam proses kreasi seorang seniman dan pengaruhnya sampai pula pada kebudayaan daerah di belahan dunia.
Asas ini konon mengutamakan kemahiran gambar anatomi maupun perspektif. Dalam tradisi klasik Yunani, seniman menggambari dewa-dewi mereka dalam wujud manusia. Lukisan-lukisan di Kepulauan Nusantara pun tidak memperlihatkan kecenderungan "realis-naturalis", melainkan selalu memperlihatkan abstraksi, sesuai dengan "ideal oriental".
Ahmad Sadali juga menilai perbedaan bahwa hakikat abstraksi itu penyimpangan dari representasi "murni"; sedangkan abstrak adalah istilah untuk menyatakan pelukisan yang sama-sekali non-representatif. Manusia Timur memang tidak mengenal representasi dalam keseniannya kecuali simbol dan perlambangan. Entah apa yang akan dikomentari Trisno Sumardjo kalau dia berkesempatan membaca argumentasi Ahmad Sadali tersebut.
Sang pejuang kesenian itu dikabarkan mengalami hidup yang getir, pahit, dan sepi. Dia tetap bersikeras bahwa seniman sepantasnya memiliki posisi yang berharga di tengah masyarakat. Keyakinan itu didasari semangat bahwa tugas seorang seniman bukan hanya melukis. Tidak heran, pada bulan Agustus tahun 1950, kritikus itu menghardik: "Alangkah bodohnya pelukis yang takut pada buku-buku tebal...."

sumber: Wikipedia



Press Realease: MENULIS DI www.rumahdunia.com ADA HONORNYA
Oleh Jang RuDun

Rumah Dunia adalah lini sosial Yayasan Pena Dunia, berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, nomor 006, 12 Juni 2006. Rumah Dunia adalah “learning centre”; pusat belajar jurnalitsik, sastra, menggambar, teater, musik, dan film bagi anak-anak, pelajar, mahasiswa, bahkan umum. Rumah Dunia digulirkan sejak 2002. Setelah hampir 5 tahun sejak digulirkan 24 Desember 2008, situs www.rumahdunia.net sebagai pelayanan kepada para donatur atau sponsor Rumah Dunia, kini mulai difocuskan pada pembelajaran dan menampung bakat-bakat terpendam.

Rumah Dunia selama ini kegiatan serta operasionalnya didukung oleh para donatur perorangan dan beberapa lembaga yang peduli. Mulai 1 November 2009, Yayasan Pena Dunia yang menaungi Rumah Dunia, akan meluncurkan unit usaha yang bergerak di informasi, yaitu penerbitan dalam bentuk on line bernama: www.rumahdunia.com dengan tagline “Spirit Banten Untuk Dunia”.

www.rumahdunia.com mengusung spirit kelokalan; think globally act locally. Juga membangun generasi baru yang mandiri, kritis, dan kreatif. “Insya Allah, kami akan mengusung jurnalisme kritis. Terbit mingguan setiap Senin. Tapi up date berita seputar Banten setiap hari. Semoga www.rumahdunia.com berjalan lancar, banyak pemasang iklan, sehingga bisa mensubsidi Rumah Dunia,” Gol A Gong, pendiri Rumah dunia, memberi keterangan.

www.rumahdunia.com dikelola para relawan Rumah Dunia, yang sudah malang melintang di pers lokal dan nasional. Diantaranya Gol A Gong, Toto ST Radik, Firman Venayaksa, Tias Tatanka, Langlang Randhawa, dan Ibnu Adam Aviciena.

www.rumahdunia.com terbuka menerima tulisan. Tentu dengan spirit yang sama, yaitu mengusung kearifan local, bersikap kritis, dan menyodorkan solusi yang kreatif. Redaksi menerima tulisan berupa essay (6000 karakter), cerita pendek (6000 – 8000 karakter), dan puisi. Setiap tulisan yang dimuat mendapatkan honorarium. Essay dan cerpen Rp. 50.000,- serta puisi Rp. 25.000,- lumayan, buat beli pulsa.

Untuk essay kirim lewat email ke essay@rumahdunia.com, cerpen ke cerpen@rumahdunia.com, dan puisi ke puisi@rumahdunia.com. Jangan lupa sertakan biodata singkat, nomor rekening bank, dan foto diri. Tetap semangat menulis.***


* Dinukil dari note “MENULIS DI RUMAH DUNIA DAPAT HONOR!” dan dimuat di halaman facebook Abdul Salam Hs



E-readers may not solve publisher woes yet


By Basil Katz

NEW YORK (Reuters) - Publishers hoping to halt a slide in sales with new electronic reading devices will struggle to get consumers to embrace them until the technology improves, experts say.

The gadgets -- such as Amazon.com Inc's Kindle and Barnes & Noble Inc's new $259 Nook -- have created an enormous buzz in the publishing world and marketers hope they will become popular Christmas gifts.

In some respects the new devices still compare unfavorably to the tactile experience of the printed page and lack multiple functions of more advanced technology such as smartphones, industry experts say.

Joe Wikert of O'Reilly Media Inc, a publishing company and media consultant firm, said e-readers are mostly "one-trick ponies," an extra device with only one function, in contrast to multifaceted products such as Apple Inc's iPhone.

So far, e-readers mostly provide "static reproductions of the print version," minus the advantages of hard-copy books that readers have grown accustomed to over the years, such as easily being able to pass a book on to a friend, Wikert said. The Nook, however, lets users share books.

Still, 2009 sales of e-readers are expected to reach 3 million units, according to Forrester Research.

Newer devices can store thousands of easily downloadable books at a time and allow access to certain websites, newspapers and magazines.

NEW TOOLS, PLEASE

But while most experts praise e-ink, a display technology that strives to mimic printed text, the capacity for colors, embedded links, search options and video is still lacking.

These devices are "technologically not advanced enough for most content," said Paul DeHart, president of BlueToad Inc, a digital publishing company, and do not yet make it worth the effort of lugging around another gadget.

Bob Stein, formerly of the Institute for the Future of the Book, said the technology was still too foreign for most consumers. Until consumers have the control of simple "new tools that enable the creation of multi-modal content," digital publishing will face obstacles.

Publishers also need to increase the number and variety of e-books on offer, said Ross Rubin at the NPD group.

"Content needs to expand beyond bestsellers," said Rubin, "Text books are a very good direction."

Amazon says there more than 350,000 books available for its Kindles, which come in a $259 and $489 models, while Barnes and Noble says it has more than 1 million books.

WHY WAIT FOR PRINT?

But for some, this is the right time for e-publishing to reinvigorate the industry, while also addressing shortcomings of the new products.

One venture, Open Road Integrated Media, is already seeking to publish electronic versions of backlist books -- augmented with video -- as well as new titles on demand.

Meanwhile, news website the Daily Beast, which had 3.9 million unique visitors in September, has launched Beast Books to produce books on current subjects in a shorter time, with the e-version coming out first.

"You can crash out an e-book as soon as you've got the final text," said Caroline Marks of The Daily Beast. "I don't see the point of waiting for the print book."

(Editing by Bill Trott)


Source: Reuters, Fri Oct 30, 2009 1:22pm EDT


 
Ledakan di Langit Bone
LAPAN: Dugaan Kuat Meteor
Pantauan LAPAN siang tadi, untuk sementara tak ada sampah antariksa yang jatuh di Bone.
 
VIVAnews - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menduga kuat benda yang meledak di langit Bone, Sulawesi Selatan adalah meteorit.

Karena dari pantauan LAPAN siang tadi, untuk sementara ini tidak ada benda buatan manusia yang jatuh, seperti sampah antariksa di sekitar Bone.

"Informasi sementara, tidak ada benda jatuh buatan manusia atau sampah antariksa yang melintas di sekitar Bone. Kalau betul bukan sampah, dugaan kuat meteorit," kata peneliti utama astronomi dan astrofisika LAPAN, Thomas Djamaluddin saat dihubungi VIVAnews, Kamis 8 Oktober 2009 pukul 13.25 WIB.

Thomas mengatakan, kemungkinan sampah antariksa memang sangat kecil karena saat ini tidak banyak sampah antariksa di luar angkasa. "Jadi dugaan kuat meteor. Meteor itu sporadis (jatuhnya), di luar bumi banyak sekali batuan sisa pembentukan tata surya," kata dia.

Dan jika benda langit ini masuk ke bumi, saat menyentuh atmosfir tentu akan menimbulkan pijaran dengan ukuran yang bervariasi. "Karena yang dilihat di Bone siang, pijarannya bisa saja tidak terlalu seperti bola api. Beda kalau dilihat malam," kata Thomas.

Sementara getaran yang ditimbulkan, kata dia, akibat benda itu berbenturan dengan bumi dan gesesak dengan atmosfir yang bisa menimbulkan deru seperti angin. Meteor yang menyentuh bumi, kata dia bisa menembus tanah hingga 1 meter seperti yang terjadi di Pontianak. Di Pontianak meteor yang jatuh hanya seukuran buah kelapa. Namun karena di sana banyak lahan gambut, meteor menembus hingga 1 meter.

Sedangkan ledakan yang terjadi akibat benda tersebut pecah saat menembus atmosfir.


Sumber: VIVANEWS Kamis, 8 Oktober 2009, 13:42 WIB


 
20 Tahun Runtuhnya Tembok Berlin
Tiga Negarawan Bertemu
 
Senin, 2 November 2009 | 03:03 WIB

Berlin, Minggu - Mantan Kanselir Jerman Helmut Kohl (79), mantan Presiden AS George Bush (85), dan mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev (78) berbagi kenangan dan memberi penghormatan kepada orang-orang yang berada di balik runtuhnya Tembok Berlin 20 tahun lalu.
Ketiga negarawan itu bertemu di Friedrichstrasse, Berlin, Sabtu (31/10), dalam upacara peringatan jatuhnya Tembok Berlin yang dihadiri sekitar 1.800 orang. Kohl, Bush, dan Gorbachev adalah sosok yang berperan besar dalam pembukaan kembali tembok itu setelah keruntuhannya.
Tembok Berlin adalah simbol Perang Dingin yang memisahkan Berlin dan Jerman. Tembok itu merefleksikan kebencian dan perpecahan selama lebih dari 40 tahun. Tembok itu dibuka kembali pada 9 November 1989 dan kedua Jerman bersatu 11 bulan kemudian.
”Kami bangsa Jerman tidak memiliki banyak catatan sejarah yang patut dibanggakan. Akan tetapi, kami punya semua alasan untuk bangga atas bersatunya kembali Jerman,” kata Kohl, yang menjadi kanselir tahun 1982-1998.
Dalam pidatonya, Bush memberi penghormatan kepada ribuan warga Jerman Timur yang mempertaruhkan hidup dengan menghadiri protes massal menuntut reformasi yang menuntun pada keruntuhan Tembok Berlin. Peneliti mencatat setidaknya 136 orang tewas saat mencoba menyeberang ke Jerman Barat.
”Poin yang penting adalah perayaan bersejarah ini tidak digelar di Bonn, atau Moskwa, atau Washington, tetapi dalam hati dan pikiran orang-orang yang telah lama dicabut hak asasinya,” kata Bush yang berkuasa tahun 1989-1993.

Titik puncak
Gorbachev mengatakan, pembukaan kembali Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin adalah titik puncak dari proses lama pendekatan pasca-Perang Dunia II. ”Rakyatlah pahlawannya. Kami bertiga tidak ingin dipuji atas pencapaian generasi sebelumnya,” ujar Gorbachev yang memimpin Soviet tahun 1985-1991.
Ketiganya sangat menikmati pertemuan dalam peringatan tersebut, meskipun Kohl duduk di kursi roda dan sulit berbicara, sementara Bush mengandalkan tongkat untuk menopang dirinya. Mereka saling memuji dan menuturkan keakraban mereka.
”Belum ada sebuah hubungan yang menyaingi level hubungan saya dengan kedua orang ini,” ujar Kohl.
Sebuah perayaan bertajuk ”Festival of Freedom” akan diselenggarakan pada 9 November di Berlin yang akan dihadiri sejumlah kepala negara. (ap/afp/reuters/fro)

 sumber: KOMPAS

 
Teropong surya yang berfungsi khusus untuk pengamatan Matahari kini mulai bisa dimanfaatkan secara luas oleh publik. Teropong yang dibuat mandiri oleh Institut Teknologi Bandung tersebut memiliki kemampuan, baik untuk mengamati bintik hitam Matahari maupun fenomena ledakan lidah api Matahari. Teropong ini diresmikan pada Sabtu (31/10) di Bosscha, Lembang, Jawa Barat.
 
 
ASTRONOMI
ITB Membuat Teropong Surya
 
Senin, 2 November 2009 | 04:02 WIB

Bandung, Kompas - Teropong surya untuk pengamatan Matahari resmi dioperasikan di Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat, Sabtu (31/10). Teropong ini dibuat secara mandiri oleh Institut Teknologi Bandung.
Seluruh komponen dan sistem mekanisme kerja teleskop, kecuali tiga set lensa Coronado, dibuat di ITB. Teropong surya adalah satu dari dua teropong generasi baru di Bosscha yang dibuat sendiri oleh ITB.
Fasilitas teropong surya memiliki dua jenis teleskop, yaitu teleskop Coronado dengan tiga filter, yaitu visual white light yang dilengkapi filter melemahkan cahaya 10.000 kali, hidrogen alfa, dan kalsium II. Teleskop kedua, yaitu Coleostat, yang berfungsi membuat citra dan spektrum Matahari secara analog.
”Dengan menggunakan teleskop ini, kita bisa mengamati ledakan Matahari dengan sangat baik,” tutur Dhani Herdiwijaya dari Astronomi ITB. Kemampuan teleskop surya di Bosscha ini, menurutnya, adalah yang terlengkap di Indonesia.
Teleskop ini bekerja baik untuk mengamati bintik Matahari di lapisan fotosfer dan ledakan Matahari pada lapisan kromosfer. ”Skala di atas 700 kilometer pada permukaan (fotosfer) masih bisa terlihat dengan baik pada teleskop ini,” ungkap Dhani.
Kepala Observatorium Bosscha Taufik Hidayat menuturkan, fasilitas teropong Matahari yang dilengkapi dengan rumah teropong ini bisa digunakan lintas lembaga, tidak hanya ITB. ”Fasilitas ini dapat digunakan untuk guru, siswa, masyarakat umum yang haus dengan ilmu pengetahuan,” tuturnya.
Teropong ini dioperasikan secara tayangan langsung (real time). Data dan citra hasil pemantauan ditayangkan di layar monitor Worlwide Telescope hasil sumbangan Microsoft serta di situs ITB. ”Jadi, setiap orang bisa mendapat data ini di mana saja,” ujarnya.
Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Clara Yono Yatini mengatakan, keberadaan teropong surya di Bosscha diharapkan bisa menopang riset mengenai aktivitas Matahari secara lebih baik lagi. Ia menyambut baik langkah ITB yang mengizinkan instansi lain dan masyarakat umum memanfaatkan teropong ini.
Robert J Rutten, pakar Fisika Matahari dari Utrecht University, Belanda, yang ikut hadir dalam acara peresmian teropong tersebut berpendapat, fungsi ideal dari teropong surya ini sebetulnya untuk pendidikan sains dan astronomi bagi masyarakat luas.
”Fungsi utamanya adalah untuk pendidikan massal, untuk merangsang banyak pelajar lebih menyukai astronomi. Di sini mereka bisa mendapatkan data yang canggih dan lengkap untuk proyek-proyek pengamatan atau penelitian,” tuturnya.
Itu karena, jika dibandingkan teropong surya lainnya yang ada di negara-negara lain, teropong surya di Bosscha belum canggih betul. Apalagi, ujarnya, muncul kecenderungan baru pembuatan teleskop Matahari di orbit Bumi (luar angkasa) yang bisa beroperasi 24 jam mengamati Matahari dan terbebas dari awan.
Biaya pembangunan fasilitas teropong surya ini adalah sebesar Rp 600 juta. Dana diperoleh dari beberapa sumber, di dalam dan luar negeri. (JON)

sumber: KOMPAS


oleh Samuel Mulia

Akhir pekan minggu lalu saya habiskan dengan bekerja di Kota Buaya, tepatnya di hotel berbintang lima, lebih tepatnya lagi di sebuah hotel resor. Saya juga kaget, ada hotel resor di tengah Kota Buaya yang panasnya saat itu mencapai tiga puluh delapan derajat celsius.
Melangkah keluar dari lapangan terbang dan keluar dari mobil saat tiba di tempat penginapan itu kulit terasa cekit-cekit. Cekit-cekit itu sama dengan perasaan yang Anda alami kalau menggigit lombok rawit. Sengaja atau tidak sengaja. Kalau teman saya arek Suroboyo bicaranya seperti ini, ”Sambele ndek ilat cekit-cekit.”
Mungkin sudah waktunya kalau kota penuh beton ini punya hotel resor, yang bisa menjadi tempat pelarian sejenak untuk ”mendinginkan” mata dan berefek sampai ke emosi. Saya tiba di penginapan sekitar pukul delapan pagi, senang melihat taman luas asri buatan seorang arsitek taman yang kondang, setelah melihat pemandangan rumput kering berwarna coklat mengenaskan sepanjang perjalanan menuju ke tempat penginapan itu.

Turba
Kalau saya mendengar hotel berpredikat atau dikategorikan bintang lima, pemikiran saya hanya sampai kepada kemewahan interiornya, kecanggihan fasilitasnya, tamu-tamu ternama yang pernah menginap, dan harganya yang selangit dibandingkan dengan hotel ecek-ecek.
Pada akhir pekan itu saya belajar sesuatu, yaitu yang namanya hotel berbintang lima ternyata bukan sekadar tempat penginapan yang memberi gengsi semata, tetapi petingginya bisa turun langsung melayani tamunya seperti bukan petinggi. Sebuah tindakan nyata, bukan sekadar slogan menarik, seperti dalam iklan hotel berbintang pada umumnya.
Setiap pukul enam sore para bos berkumpul di lobi hotel, menyapa tamu, membagikan kartu nama, bukan untuk memasarkan diri sendiri, tetapi untuk memudahkan tamunya berbicara langsung kepada mereka. Mau memuji kek, mau complain kek.
Kehadiran mereka di lobi membuat para tamu tak perlu susah-susah membuat perjanjian curhat dengan mereka. Pengalaman saya, kalau mau bertemu petinggi jalannya lebih banyak berliku ketimbang lurus. Petugas ”satpam”-nya banyak dan kadang ada petinggi yang senang membuat jalan berliku supaya terasa ia petinggi. Kalau gampang, takut kelihatan kayak jongos. Yaaaa… kalau bisa disusahkan, mengapa mesti dimudahkan.
Kehadiran bos-bos di lobi hotel itu melahirkan pertanyaan. Mengapa mereka melakukan itu? Tidak seperti saya, mereka mau mencoba berdiri di sisi orang lain, tepatnya berdiri di sisi konsumen. Kalau saya, orientasinya diri sendiri, bukan consumer driven. Itu mengapa, saya jarang menyediakan waktu untuk orang lain, untuk memberi mereka sesi curhat. Saya tak siap di-complain. Yaa... kalau cara kritiknya halus, bagaimana kalau nyelekit? Karena itu, saya sering menggunakan anak buah sebagai tameng. Cukup menyodorkan humas.
Pimpinan tertinggi hotel itu mengatakan kepada saya, ”Harga di tempat ini bukan hanya termasuk kamar dan makan pagi saja, tetapi termasuk bertemu dengan kami yang siap melayani.”
Saya berpikir, kalau para jenderalnya saja bisa turba, bukankah sebagai konsumen saya ada di tangan yang aman dan diperlakukan istimewa? Mungkin inilah yang membedakan hotel ini dari hotel lain, sebuah unique selling proposition yang datang dari hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang.

Petinggi ”Of The Year”
Di tempat penginapan ini surat selamat datang di dalam kamar, ditulis dengan goresan tangan pemimpinnya, bukan dicetak biasa dan hanya ditandatangani. Saya tak tahu apakah ia melakukan untuk semua tamunya, tetapi paling tidak, surat dengan sentuhan yang ”personal” itu melahirkan sejuta perasaan yang menyinggung saya.
Saya malas repot-repot menulis kartu ucapan ulang tahun dan sebagainya. SMS saja, selesai semua. Seharusnya, kejutan kecil macam itu bisa jadi membuat orang merasa istimewa. Bagaimana tidak? Menulis dengan goresan tangan memerlukan waktu dan usaha. Saya sudah lama, lama sekali, tak pernah berpikir membuat orang lain merasa istimewa. Itu mengapa saat lift terbuka, saya main langsung masuk saja. Mau yang di dalam susah keluar, itu urusan mereka. Semua itu karena saya tak mau berdiri di sisi orang lain. Maka, melayani menjadi kerepotan.
Waktu saya di dalam lift bersama beberapa petinggi hotel berbintang lima itu, tiba-tiba sang pemimpin mengeluarkan dompet tipis berwarna gelap dari kantong jas yang ternyata tempat lap pembersih. Dia langsung menyeka bekas tangan yang tampak di pegangan besi di dalam lift. Sambil masih membersihkan, ia menjelaskan semua atasan dibekali dompet tipis itu, sehingga kapan pun dan di mana pun mereka yang dipredikatkan bos dalam setelan jas, juga siap membersihkan.
Melihat kejadian itu, terbersit ide, bagaimana kalau mulai besok, siapa pun Anda yang dikategorikan petinggi, menyediakan dompet tipis berisi lap di kantong jas atau celana. Kalau Anda yang di tempat tinggi mau melakukan pekerjaan semacam itu, bawahan Anda pasti akan mengagumi dan meniru perbuatan mulia itu. Jadi, pemimpin yang bukan no action talk only.
Maka, yang disebut petinggi yang dihormati adalah kalau ia bisa berperilaku seperti bawahan. Menjadi warga biasa, bukan warga luar biasa. Petinggi yang bisa memberi kejutan, dan membuat orang lain merasa istimewa. Mungkin kalau ada penghargaan, misalnya, Petinggi of The Year, maka salah satu penilaiannya adalah petinggi yang membawa lap ke mana-mana.
Saat saya menyelesaikan tulisan ini, seorang teman mengirimkan SMS begini: Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan”.
Nurani saya cekikan terus bersuara begini, ”Eh, Mas, jangan cumanya bisa nyaranin orang lain bawa lap. Sampean juga.” Saya balas suara dari dalam itu. ”Maaf ya… akyu bukan petinggi.”

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup


Minggu, 1 November 2009 | Kompas


Kelopak Bunga Narsis*
: Kpd Fina Sato

darimu kujelang pagi
kudapati nafas baru
desir udara yang menuntun keharuman
melekatkan semerbakmu pada kelopakku

bagaimana telah kau tumbuhkan sekuntum
bunga dari debu?
embun yang kau tebar telah santun mengasuhku

melewati waktu
segala musim berlalu

kelopak bunga ini mekar dengan nyala warnamu
semerbak harum dari parfummu

maka hujan mutiaramu yang melantai kebumiku
membuatku enggan melewatkan semusim pun
tanpa nuansamu

Batam, 2009


----------------------------------------------------------------------------------------------
*) puisi ini ditulis oleh Andi Wahyudi a.k.a Yudi Cloud dan telah dimuat di surat kabar SIJORI MANDIRI.
"Terima kasih banyak, Yudi..."


 Deadline 10 Desember 2009

LOMBA KISAH KASIH IBU
word Smart Center dan Penerbit Mizan

Kasih ibu
kepada beta
tak terhingga
sepanjang masa

hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya
menyinari dunia

* * *

"...dengan setinggi-tingginja budi dan semulia-mulianja tenaga mendjalankan kewadjiban "keperempuanannja" mendidik putera-puteranja, dengan keinsjafan dan keridlaan-niat jang tertentu, sebenarnja mendidik putera-puteranja natie:--Hendaklah mereka terutama terhadap pada kewajiban keperempuannja mendidik anak-anaknja, dengan insjaf seinsjaf-insjafnja, bahwa selamat-tjelakanja bangsa sebenar-benarnja adalah di dalam genggaman mereka itu. Hendaklah mereka oleh karenanja, semuanya bertabiat sebagai ibu jang besar...." (Kongres Kaum Ibu --"suluh Indonesia Muda", 1928-- dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, Ir. Soekarno [1959])

* * *

Lebih dari 75 negara di belahan dunia, seperti Amerika, Kanada, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Singapura, Australia dan seterus, merayakan Hari Ibu atau Mother's Day pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei untuk mengenang aktivis sosial Julia Ward Howe (1870) mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara. Beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu diperingati setiap bulan Maret untuk memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani Kuno. Sedangkan di Indonesia berdasarkan keputusan Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938 dan dikukuh oleh Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Indonesia untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa.

Sebagai seorang anak, kita berkewajiban agar ibu kita selalu berbahagia. Kita merayakan mereka, bukan karena sebagaimana termaktub di atas. Bukan karena mereka berani mengangkat senjata seperti Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Bukan karena mereka bangkit memperjuangkan hak-hak perempuan seperti yang dilakukan oleh Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Bukan pula karena mereka menjadi pemimpin bangsa sebagaimana dilakukan oleh Maria Ulfah yang menjadi menteri wanita pertama kali tahun 1950.

Kita persembahkan Hari Ibu/Mother's Day karena selama sembilan bulan kita bersemayam dalam rahim ibu kita; karena mereka berteriak dan berdarah-darah saat melahirkan ke dunia ini; karena mereka selama dua tahun memberi kita ASI penuh dengan kesulitan dan kurang tidur; karena mereka mengantarkan kita ke masa balita penuh dengan rasa cemas; karena mereka menyekolahkan kita dengan banting tulang dan rintihan do'a, karena mereka membimbing kita akan mendapatkan pekerjaan; dan karena tetap menyanyangi kita hingga akhir hayat.

Yang paling utama adalah, kita melakukannya, karena perintah Allah Swt: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Israa[17]: 23) Dan tentu saja untuk berbuat baik itu tidak harus menunggu tanggal 22 Desember setiap tahun sekali, melainkan tiap hari, bahkan tiap detak jantung kita.

Dan salah satu cara kita berbuat baik terhadap mereka adalah mengabadikan kasih sayang mereka itu dalam bentuk tulisan. Sebab, dengan menuliskan perjuangan mereka membesarkan kita, kejujuran mereka dalam menasehati kita, kedisiplinan dan keadilan mereka dalam membentuk karakter kita, dan masih banyak prinsip-prinsip atau pun nilai-nilai yang mereka berikan kepada kita, merupakan sebuah sarana agar mereka menjadi buah tutur yang baik sebagaimana Nabi Ibarahim Alaihis salam pinta: "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (QS. Asy-Syu'ara [26]: 84)

Oleh sebab itu, WORD SMART CENTER sebagai komunitas dunia kepenulisan dan perbukuan --bervisi Menuju Indonesia Mulia, Cerdas, Mandiri, dan Kreatif-- bekerjasama dengan Penerbit Mizan menyelenggarakan acara LOMBA KISAH KASIH IBU sebagai kado cinta kepada kaum ibu.

T E M A

Lomba ini bertemakan:

"Kasih Ibu Sepanjang Masa, Selalu Memberi Tak Harap Kembali"

K A T A G O R I   L O M B A

Katagori lomba adalah nonfiksi dalam bentuk esai, memoar, biografi singkat, atau tulisan seperti dalam buku Chicken Soup.

K R I T E R I A   C E R I T A  dan  I S I  T U L I S A N

1. Cerita harus berdasarkan kisah nyata (real story) atau berdasarkan fakta dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik dialami oleh penulis sendiri, atau orang lain;
2. Isi cerita tidak boleh melanggar SARA, bernuansa pornografi, atau bertentangan dengan prinsip dan nilai kebenaran;
3. Cerita atau isi tulisan harus memberikan motivasi, inspirasi, dan pelajaran berharga bagi para pembaca.

K R I T E R I A   N A S K A H

1. Berupa naskah tertulis dan disajikan secara sistimatis, sinkron, dan tuntas (tidak bersambung);
2. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
3. Naskah belum pernah diikutkan dalam lomba menulis, tidak sedang diikutkan dalam lomba menulis lainnya, atau disertakan dalam pembuatan buku antologi;
4. Naskah asli (karya sendiri) dan belum pernah diterbitkan dan atau dipublikasikan di media massa;
5. Naskah lomba minimal 5 halaman dan maksimal 15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
6. Menyertakan biodata singkat atau identitas lengkap (file terpisah dari naskah lomba), meliputi: nama lengkap, TTL, pendidikan, alamat lengkap, nomor telepon/HP, email, no. rekening, plus fotokopi/scan (dengan resolusi secukupnya, tidak perlu terlalu tinggi/besar) kartu identitas diri (KTP/Pasport/SIM/dsb).
7. Bersedia menerima sangsi hukum apabila naskah terbukti hasil plagiasi dan atau terjemahan.

P E N G I R I M A N    N A S K A H

- Naskah diterima panitia paling lambat tanggal 10 Desember 2009;
- Naskah diberikan dalam bentuk soft copy (file) yang dikirim ke e-mail kisahkasihibu@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it dan dicckan ke wordsmartcenter@gmail.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ;
- Semua naskah tidak dikembalikan dan menjadi hak milik panitia.

K R I T E R I A   P E S E R T A

1. Peserta lomba terdiri atas pelajar, mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga, dan masyarakat umum WNI (tanpa batasan usia), baik berdomisili di Indonesia maupun di luar negeri;
2. Setiap peserta boleh mengirim lebih dari satu naskah, sebanyak-banyaknya tanpa batas;
3. Peserta bukan tim penilai/juri;
4. Panitia lomba boleh mengikuti lomba;
5. Peserta terdaftar sebagai member milis wordsmartcenter@yahoogroups.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it (bagi yang belum terdaftar silahkan mendaftarkan diri ke alamat ini: http://groups.yahoo.com/group/wordsmartcenter/, atau mengirim e-mail kosong ke: wordsmartcenter-subcribe@yahoogroups.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it atau wordsmartcenter@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

P E N G U M U M A N    P E M E N A NG

- Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 22 Desember 2009 bertepatan dengan HARI IBU (Mother's Day) di milis wordsmartcenter@yahoogroups.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .
- Pemenang akan dihubungi panitia lewat e-mail/SMS untuk menerima hadiah.

H A D I A H

- Juara pertama sebesar USD 200 (Dua ratus Dolar Amerika)
- Juara kedua sebesar USD 150 (Seratus Lima Puluh Dolar Amerika)
- Juara ketiga sebesar USD 100 (Seratus Dolar Amerika)
- 3 juara harapan mendapatkan paket hadiah buku senilai Rp. 200.000,- dari Penerbit Mizan. 
- 4 juara hiburan mendapatkan hadiah buku senilai Rp. 100.000,- dari Penerbit Mizan.
- Biaya pengiriman hadiah untuk juara I, II, dan III ditanggung oleh para pemenang.

H A K   C I P T A

- Hak cipta ada pada penulis naskah;
- Hak terbit ada pada Word Smart Center untuk satu kali penerbitan;
- Royalti akan dihibahkan untuk kegiatan dan program Word Smart Center;
- Setiapkali buku terbit para penulis akan mendapatkan 3 eksemplar dari penerbit.

Didukung oleh:
www.radioppidunia.com dan www.matadunia.com

Keterangan lebih lanjut hubungi:
Udo Yamin Majdi (+20108158391) atau Rashid Satari (+20100120381) atau kirim e-mail ke: kisahkasihibu@yahoo.com



Oleh Asep Sambodja

Saya tidak tahu, apakah Pusat Bahasa mengundang Remy Sylado, Riris K. Toha Sarumpaet, Mariana Amiruddin, dan Veven Sp. Wardhana dalam acara peluncuran 10 novel berbahasa Indonesia itu untuk mencaci-maki produk Pusat Bahasa itu atau untuk memprovokasi peserta diskusi agar bergairah membaca buku-buku tersebut. Yang terjadi, kedua sastrawan dan kedua pengamat sastra itu memberi kritik (untuk tidak mengatakan caci-maki) yang sangat pedas pada Pusat Bahasa.
Dalam acara diskusi “Sepuluh Novel Berbahasa Indonesia” yang diselenggarakan pada 22 Oktober 2009 di Pusat Bahasa itu diluncurkan 10 novel yang diterbitkan Pusat Bahasa. Ke sepuluh novel itu adalah Gandamayu, Cinta Perempuan Terkutuk (Putu Fajar Arcana), Arjunawijaya (Hamsad Rangkuti), Mengasapi Rembulan (Agus R. Sarjono), Rara Beruk (Suyono Suyatno), Kisah Tuhu dari Tanah Melayu (Abidah El Khalieqy), Mundinglaya Dikusumah (Gola Gong), Janji yang Teringkari (Imam Budi Utomo), Lubdaka yang Berkelebat (Yanusa Nugroho), Kundangdya (Oka Rusmini), dan Kakawin Gajah Mada (Kurnia Effendi).
Dalam diskusi tersebut, sastrawan Veven Sp. Wardhana mengatakan, kalau dilihat dari sudut industri kreatif, cover buku 10 novel itu tidak menarik. Ketika buku-buku itu diberikan kepada anak-anaknya, mereka bertanya, “Ini buku terbitan kapan? Tahun 50-an atau 60-an?” Dari segi industri kreatif ini, buku-buku tersebut akan “gulung koming” di pasaran buku; atau sekadar menjadi pajangan di rak toko buku.
Riris K. Toha-Sarumpaet mengatakan bahasa yang digunakan dalam buku-buku itu sangat jorok, dalam arti kesalahan ejaannya sangat mengganggu kenikmatan membaca. Selain itu, penceritaannya tidak menarik; masih seperti silsilah raja-raja, tapi kurang bercerita. “Untuk orang dewasa saja tidak menarik, apalagi untuk anak-anak,” kata Guru Besar FIB UI ini.
Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan, Maria Aminuddin, mempertanyakan kenapa Pusat Bahasa mengangkat cerita-cerita lama itu di masa sekarang ini, kenapa bukan karya sastra yang mengangkat lokalitas dan persoalan-persoalan kontemporer. Karena, persoalan kontemporer pun menarik untuk diangkat dalam sastra, seperti peristiwa Mei 1998 dan tragedi 1965-1966.
Novelis dan penyair Remy Sylado menguliti novel-novel itu dari segi bahasanya, yang kekacauannya sangat “centang perenang”. “Penulis tampak sekadar menulis ulang cerita-cerita lama, dan menuliskannya secara sekadar pula. Editor bahasa maupun korektor bahasa juga tidak sungguh-sungguh memperhatikan bahasa, sehingga muncul kesalahan dan ketidakkonsistenan,” ujar Remy.
Redaktur Budaya Republika Ahmadun Yosi Herfanda yang menjadi moderator dalam acara itu tampak sibuk membela produk Pusat Bahasa itu, karena dia merupakan salah satu tim editornya. Ahmadun tampaknya menerima kritikan itu sebagai masukan dan berjanji (‘janji adalah utang yang harus dibayar’) akan memperbaiki buku-buku tersebut. Dad Murniah sebagai staf Pusat Bahasa yang juga penyelaras bahasa pun menampung kritik-kritik tersebut untuk memperbaiki buku-buku itu sebelum disosialisasikan kepada masyarakat.
Rasanya aneh kalau Pusat Bahasa masih memproduksi karya sastra dengan tingkat kesalahan bahasa yang sangat parah. Aneh sekali di mata masyarakat; kenapa Pusat Bahasa yang memproduksi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masih melakukan kesalahan yang sangat fatal seperti itu? Apakah mereka tidak menggunakan KBBI dalam melakukan penyuntingan? Kalau benar seperti itu, apa kata dunia?
Saya paham ini adalah sebuah proyek. Tapi, sejatinya proyek itu jangan dikerjakan secara asal-asalan. Hasilnya kan terlihat kemudian, bahwa ternyata, dari segi bahasanya saja, produk itu sangat memalukan. Belum lagi dilihat dari segi ceritanya. Kalau sekadar menulis ulang cerita lama dengan kemasan baru, risikonya adalah karya itu bisa dicap sebagai plagiarisme kalau pengarang aslinya tidak disebutkan. Apatah lagi soal royalti. Bagaimana mungkin Pusat Bahasa mengambil karya nenek moyang kita begitu saja dan memproduksinya secara massal? Pramoedya Ananta Toer saja memaki-maki Taufiq Ismail sebagai plagiator karena mengambil karya-karya Pram berupa esai dari harian Bintang Timur dan dimuat begitu saja dalam Prahara Budaya tanpa minta izin pada Pramoedya. “Itu merampok namanya,” kata Pram.
Agar proyek itu tidak dikatakan plagiarisme, sebaiknya cerita-cerita lama itu tidak sekadar ditulis ulang, tapi sudah direkonstruksi bahkan didekonstruksi oleh pengarang yang baru. Contoh yang baik saya kira adalah novel Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma. Dia mendekonstruksi cerita Ramayana. Meskipun demikian, dia mencantumkan sumber-sumber referensinya.
Dalam diskusi itu, saya menyarankan kepada Pusat Bahasa, kenapa tidak mensosialisasikan karya-karya sastra yang sudah ada sekarang ini? Karya-karya Remy Sylado, Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Linda Christanty, Veven Sp. Wardhana, Sapardi Djoko Damono, A. Mustofa Bisri, Pramoedya Ananta Toer, dan lain-lain yang sudah teruji kualitasnya itu yang diproduksi secara massal untuk dibagikan ke sekolah-sekolah?
Dalam sambutannya, Mustaqim (?) dari Pusat Bahasa mengatakan proyek ini untuk melestarikan nilai-nilai budaya ketimuran. Itu ungkapan yang klise. Nilai-nilai Timur seperti apa yang dilestarikan? Nilai-nilai Barat apa yang ditolak? Saya justru menyarankan kepada Pusat Bahasa agar tidak alergi dengan pengaruh dari luar. Nilai-nilai Islam itu adalah salah satu pengaruh dari luar. Begitu juga nilai-nilai Kristen, Hindu, Konghucu, dan lain-lain. Sistem pendidikan yang mendominasi sekarang ini pun pengaruh dari Barat. Jadi, jangan diulang-ulanglah ungkapan seperti itu. Kita kan tidak mau jadi kodok dalam tempurung kelapa busuk.
* Dinukil dari esai “Catatan buat Pusat Bahasa (Edisi Relatif Komplet)” dan dimuat di halaman facebook Asep Sambodja